Posted on

Inilah Kandidat Tiga Nama Pelatih Terbaik 2015

Inilah Kandidat Tiga Nama Pelatih Terbaik 2015

Inilah Kandidat Tiga Nama Pelatih Terbaik 2015

FIFA telah mengumumkan tiga nama yang menjadi calon pelatih terbaik tahun 2015. Mereka adalah Luis Enrique, Pep Guardiola, dan Jorge Sampaoli.

Enrique masuk daftar finalis berkat kesuksesan Barcelona meraih tiga gelar pada 2014-15. Itu adalah kali kedua Barca meraih treble dalam sejarah mereka.

Sementara itu, Guardiola membawa Bayern Muenchen sebagai juara Bundesliga untuk kali kedua secara beruntun. Ini merupakan kali keempat Guardiola masuk daftar tiga finalis. Dia sempat memenanginya pada edisi 2011.

Adapun Sampaoli mengantarkan Cile menjuarai Copa America 2015 dan menembus peringkat ketiga dalam ranking FIFA.

Tak ada nama Jose Mourinho dan Massimiliano Allegri dalam daftar finalis. Padahal, Mourinho menyumbang gelar Premier League dan Capital One untuk Chelsea, sedangkan Allegri memenangi Serie A dan Coppa Italia bersama Juventus.

Untuk kategori pelatih tim putri, tiga nama yang menjadi kandidat pelatih terbaik adalah Jill Ellis (pelatih timnas Amerika Serikat), Mark Sampson (pelatih timnas Inggris), dan Norio Sasaki (pelatih timnas Jepang). Ellis mengantarkan timnya jadi juara Piala Dunia Wanita 2015, sementara Sasaki dan Sampson masing-masing membawa timnya menjadi runner-up dan peringkat ketiga di ajang yang sama.

Pemilihan kandidat ini dilakukan melalui proses voting yang melibatkan kapten dan pelatih timnas, baik tim putra maupun tim putri, dan jurnalis dari 207 negara anggota FIFA. FIFA dan France Football juga memilih satu jurnalis dari setiap negara untuk menyumbang suara.

Pemenang bakal diumumkan pada malam seremonial Ballon d’Or di Kongresshaus, Zurich, Swiss, 11 Januari 2016. Pada momen ini, FIFA juga mengumumkan pemenang Ballon d’Or, Women’s World Player of the Year, dan Puskas Award.

Posted on

Menurut Luis Enrique Gaya Permainan Barcelona dan Juventus Serupa

Menurut Luis Enrique Gaya Permainan Barcelona dan Juventus Serupa

Menurut Luis Enrique Gaya Permainan Barcelona dan Juventus Serupa

Enrique terus meyakini pasukannya bakalan lebih superior dan mendominasi ketimbang Juventus dalam penguasaan bola terhadap pertandingan malam nanti.

Laga final Liga Champions antara Juventus & Barcelona, Sabtu ( 6/Juni ) tengah malam di Berlin, tidak sedikit digambarkan yang merupakan bentrokan dua pakem tenar : Bianconeri bersama permainan yang patuh aturan dan rapi khas Italia menghadapi skema offensif yang sudah mendarah daging dalam skuat Blaugrana.

Tapi, Luis Enrique sebagai entrenador El Barca justru memberikan pendapat bahwa gaya permainan ke -2 kubu sesungguhnya sangat serupa, walaupun dia terus meyakini pasukannya bakal lebih superior dan mendominasi dalam penguasaan bola saat pertandigan malam nanti.

“Ini pertandingan dimana kami bakal mempunyai penguasaan bola lebih banyak. Namun kami mesti waspada pada segala cakupan yang berkemungkinan menjadi masalah, dikarenakan mereka dapat mengusahakan permainan yang terbaik. Mereka mempunyai gaya yang serupa seperti kami,” kata Enrique dalam pertemuan pers.

“Mereka mempunyai pertahanan yang teramat sangat bagus, & seperti kami, mereka juga mengincar treble winners. Massimiliano Allegri sudah bekerja dengan baik dalam mengamankan double.”

“Saya pikir ini dapat jadi tontonan yang luar biasa, Juara Italia menghadapi Juara Spanyol. Kami sudah memenangi dua piala & sekarang ini kami ingin mengincar satu trofi tersisa lagi demi treble.”

Posted on

Rotasi Luis Enrique Bikin Barcelona Di Atas Angin

Rotasi Luis Enrique Bikin Barcelona Di Atas Angin

Rotasi Luis Enrique Bikin Barcelona Di Atas Angin

Rotasi Luis Enrique Bikin Barcelona Di Atas Angin

Sementara Bayern Munich terimbas krisis cedera, skuat Barcelona tetap utuh dan segar berkat sistem rotasi yang diterapkan sang entrenador.

Bulan Januari menjadi titik balik untuk Barcelona pimpinan Luis Enrique. Sang pelatih asal Asturia mengambil sikap untuk tidak pernah lagi meninggalkan Lionel Messi di bangku cadangan pascakekalahan di markas Real Sociedad, sementara timnya mulai memperlihatkan rentetan performa paling menjanjikan musim ini.

Tetapi Januari juga signifikan untuk Enrique karena ia akhirnya menurunkan susunan tim yang sama dua kali. Selama 29 laga pertama musim, Enrique menampilkan 29 line-up berbeda, sebelum memilih starting XI yang sama secara beruntun dalam kemenangan melawan Atletico Madrid dan Deportivo La Coruna.Luis

Banyak keputusan sang bos sebelumnya membuat murka fans dan membingungkan para pemainnya sendiri. Messi tak senang mengawali laga di bench menghadapi Sociedad, sementara keputusannya untuk menepikan Luis Suarez dan Neymar nyaris berakibat fatal kala melawat ke Almeria pada November, sebelum kedua striker membalikkan keadaan di babak kedua untuk membungkus kemenangan 2-1.

“Pemain bukan mesin,” ujar Enrique usai kemenangan minimalis 1-0 di kandang sendiri kontra APOEL di fase grup Liga Champions pada September. “Mereka harus fit. Tapi kami harus berkembang.”

Saat Januari tiba, tekanan mulai menggunung. Barca sering memetik kemenangan, tapi tertinggal di belakang Real Madrid di La Liga, sedangkan perubahan taktik dan rotasi konstan dari sang pelatih membuat pers, pemain, dan suporter semuanya kehilangan keyakinan pada pria 44 tahun tersebut.

Namun empat bulan berselang, Barca asuhan Enrique berada di posisi mantap: di puncak La Liga dengan tiga laga tersisa, akan menghadapi Athletic Bilbao di final Copa del Rey pada akhir Mei, dan tengah bersiap untuk bertanding melawan Bayern Munich di babak empat besar Liga Champions minggu ini. Ini adalah skenario impian untuk mantan gelandang internasional Spanyol itu.

Semula dianggap sebagai bagian dari permasalahan saat Barca kesulitan untuk padu pada periode musim gugur dan musim dingin, rotasi Enrique kini terbukti telah membantu Barca menghindari cedera dan menjaga para pemain tetap segar untuk sebagian besar partai penting musim ini.

“Ia sempat menerima kritik karena kebijakan rotasinya,” kata Javier Mascherano setelah Barca melipat Cordoba 8-0 pada Sabtu (2/5) lalu. “Tetapi untuk bisa tiba di akhir musim dengan grup tetap utuh dan 23 pemain semuanya tersedia (red.: Jeremy Mathieu dinyatakan mengalami cedera tendon Achilles kemarin) adalah berkat sang pelatih. Orang-orang harus menyadari itu.”

Mascherano benar: Barca dalam kondisi prima jika dibandingkan dengan rival-rival mereka. Madrid telah kehilangan sejumlah bintang utama – di antaranya Luka Modric, James Rodriguez, Gareth Bale, dan Karim Benzema – dalam beberapa minggu dan bulan terakhir.

Sedangkan Bayern, lawan di semi-final Liga Champions nanti malam, dirundung oleh krisis cedera yang disebut pelatih Pep Guardiola sebagai yang terburuk yang pernah dilihatnya, dengan nama-nama seperti Arjen Robben, David Alaba, dan Franck Ribery menghiasi daftar absensi. Bertolak belakang dengan Barca yang sukses menjauhkan para pemain dari ruang perawatan berkat kebijakan pintar dari Enrique untuk memberikan waktu istirahat dan pemulihan kepada skuatnya.

Messi tentunya menjadi pengecualian. Seperti Cristiano Ronaldo di Real, bintang Argentina itu ingin terlibat dalam setiap pertandingan dan kebugarannya yang istimewa membuatnya dapat melakukan itu. Enrique juga memahami bahwa mengistirahatkan Messi tersebut hanya akan berujung pada liputan negatif oleh pers dan kemungkinan kisruh dalam relasinya dengan si pemain.

Namun di samping Leo, semua pemain lainnya menerima bahwa mereka pada sewaktu-waktu akan berada di bangku cadangan pada kampanye 2014/15 ini – dan mereka telah diberitahu bahwa itu adalah demi kebaikan mereka sendiri.

Neymar meluapkan amarah saat ditarik keluar oleh Enrique dalam hasil imbang 2-2 dengan tuan rumah Sevilla belum lama ini, tapi striker Brasil itu pantas merasa frustrasi: ia pemain terbaik Barca dalam laga tersebut dan setelah ia digantikan Sevilla mampu mencetak gol penyeimbang pada pengujung laga.

Itu membuktikan Enrique tidak sempurna, tapi memang tak ada pelatih yang sempurna, dan Barca patut berterima kasih kepada pelatih mereka yang berani untuk tetap bertahan dengan kebijakan rotasinya karena itu telah menjaga para pemainnya tetap fresh dan bebas dari cedera memasuki akhir 2014/15. – dan itu bisa menjadi pembeda antara kesuksesan dan kegagalan dalam perebutan titel.

Posted on

Bayern Munchen Belajar dari Kekalahan

Bayern Munchen Belajar dari Kekalahanmunchen

Kapten Bayern Munchen yaitu Phillip Lahm belajar banyak dari kekalahan teamnya di partai semifinal DFB Pokal pada Rabu 29 April 2015 saat bertanding melawan Borussia Dortmund. Kekalahan ini menjadi pembelajaran untuk menghadapi partai krusial di semifinal Liga Champions kontra Barcelona pada Kamis, 7 Mei 2015.

Team asuhan Josep Guardiola itu harus menanggung malu dalam pertandingan yang diadakan di markas besarnya sendiri yaitu Allianz Arena. Lantaran hasil imbang yang didapatkan team di waktu normal hingga perpanjang waktu membawa mereka sampai ke eksekusi penalti, sayang Die Bayern tidak bisa memanfaatkan empat tendangan penalti yang diberikan.

Team asuhan Luis Enrique juga menjadi penantang berat bagi Die Bayern dengan penampilan mereka yang kian matang dan status sebagai kandidat juara di turnamen La Liga. Trofi Liga Champions menjadi tujuan utama Bayern Munich usai gagal meraih gelar treble winner setelah keluar dari DFB Pokal.

“Tujuan besar kami adalah berada di final (DFB Pokal) saya kami tidak mengatur hal itu dengan baik, maka kami harus memperbaiki hal itu,” kata Phillip Lahm dikutip Soccerway, Kamis (30/4/2015).

“Kami akan memperbaiki hal itu dalam beberapa hari ke depan, untuk kemudian menghadapi pertandingan besar saat melawan Barcelona,” terangnya.

Sebelum menghadapi Azulgrana, Die Roten akan ditantang Bayern Leverkusen terlebih dahulu dalam lanjutan Bundesliga pada Sabtu 2 Mei 2015.